Jumat, 12 Agustus 2011

Danau Tes


Danau Tes

Danau Tes termasuk dalam wilayah kecamatan Lebong Selatan. Berbentuk memanjang di hulu sungai Ketahun. Hutan Suaka Alam Danau Tes memiliki luas 3.230 Ha. Berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor: 148/Kpts/UM/1974 tanggal 27 Maret 1974.
Debit air Danau Tes merupakan Sumber Penggerak Turbin yang berkapasitas 16 Mega Watt. Di danau tes banyak terdapat jenis ikan baik yang asli/lokal maupun yang sengaja ditebar. Sedang fauna khas adalah burung belibis (Cairina Scutulata), yang biasa terbang dari Danau Test ke Danau Menghijau atau sebaliknya, yang berjarak sekitar 4 km obyek yang bisa dinikmati yaitu memancing dan bersampan mengarungi danau
Cara mencapai lokasi:
• Dengan Kendaraan Umum atau pribadi dari Bengkulu ke Tes sekitar 138 km, kondisi jalan bagus.
READ MORE - Danau Tes

Warisan Melayu Bengkulu

Belum diketahui secara pasti sejak kapan masuknya orang-orang Melayu ke Bengkulu. Namun meski tak banyak, ada beberapa sumber sejarah yang bisa dipakai untuk melacak keberadaan orang-orang Melayu di Bengkulu. Diantara beberapa arsip yang menyebut tentang keberadaan orang-orang Melayu Bengkulu antara lain :
1. Aantekeningen Gedurende de Reis te Benkoelen door Perez, met bijlagen Maleisch Brieven en Stukken Over Maleisch Hoofden, 1835, berisi surat-surat dari para kepala pribumi Bengkulu, termasuk laporan mengenai peristiwa terbunuhnya gezaghebber di Seluma pada tahun 1835.
2. Rapport van Nahuijs over het Engelsch Etablissement Benkoelen, 1823, berupa laporan perjalanan Nahuijs ke Bengkulu pada tahun 1823, yang memuat keadaan umum masyarakat Bengkulu saat itu.
3. Relaas van de Anachodas Daing Soepoe en Boegis. Wegens de Staat en Gelegenheid van Bancahoeloe Gegeven te Batavia, 1783, yang berisi tentang keadaan Benteng Marlborough, para kepala pribumi Bengkulu, serta para anak keturunan Raden Tumenggung Wiriodiningrat.
4. Memorie Betrekkelijk de Bezitting Benkoelen om te Dienen tot Leiding van de Ambtenaar, Welke nu af en de Vervolge met het Gezag aldaar zal Worden Belast, 1826, yang berisi seluk beluk kehidupan para Pangeran pribumi Bengkulu, dan Daeng Mabella, terutama dalam kaitannya dengan pergantian jabatan serta gaji yang diterima dari pemerintah Belanda.
5. Extract Uit het Register der Besluiten van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie, Batavia, den 7 Februarij 1839, berisi tentang pengangkatan Raden Muhamad Zein sebagai kepala orang asing, dan juga pengangkatan Sultan Muko-Muko, serta pengaturan gajinya.
6. Extract uit he Register der Resolutien van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie, in Rade, Buitenzorg, den 25 October 1834, yang memuat laporan tentang permohonan Sultan Indrapura yang ingin menggabungkan kembali wilayah Muko-Muko dengan wilayahnya, serta keputusan untuk tidak mengabulkan permintaan Sultan Indrapura itu.
7. Nota over Benkoelen Geschreven te Padang 18 Februari 1840, door Resident van Ajer Bangis, de Perez, memuat laporan tentang pemilihan Sultan Muko-Muko.
8. Geslachtslijsten van Orang Baleij Banto, merupakan silsilah elite pribumi Sungai Lemau yang dimulai dari Baginda Raja Sakti.
9. Papieren Omtrent eene te doene Ondernemingen tegen Bezittingen der Engelsche ten Bencoelen op Sumatra Westkust, 1766, yang berisi Undang-Undang Adat di wilayah Sillebar mengenai Kerbau Jalang, dan surat perjanjian antara Pangeran Sillebar dengan Edward Coles Moeda,
10. Acte van Aanstelling, 1750, memuat tentang Undang-Undang Adat dari Sultan Banten untuk wilayah Sillebar yang ditulis pada tahun 1079 Hijriah (1688 Masehi).
11. Stukken over de Eigendom Bewijze van ’s Gouvernements, specerij perken te Benkoelen, 1840, Afschrijft, Maleisch Schrift, (Arsip Nasional B: 5/7), yang memuat surat perjanjian antara Pangeran Sillebar dengan Walter Ewer tertanggal 1 Maret 1804.
12. Papieren Omtrent eene te doene Ondernemingen tegen Bezettingen der Engelsche te Bencoelen op. S.W.K. 1783, met Kaart. 1 deel, Bahasa Melayu, (Arsip Nasional B: 5/6),yang berisi urat perjanjian antara Daeng Mabella dengan Pangeran Sillebar dan anak Marga Pagar Agung Pada tanggal 1 Juni 1820, berisi tentang pengaturan wilayah kekuasaan Pangeran Sillebar oleh Daeng Mabella, serta pengaturan mengenai sistem tanam lada, pala, kopi, dan cengkeh.
13. Stukken over de Eigendom Bewijze van ’sGouverments Specerij Perken te Benkoelen, 1804, Afschrijft, 1 deel, nb. Bahasa Melayu, (Arsip Nasional B: 5/7), yaitu surat pernyataan Raffles tentang pemberian tunjangan kepada Pangeran Nata Di Raja dari Sillebar pada Tanggal 1 Juni 1820, yang berisi penaikan tunjangan sebesar 100 rupiah per bulan, sehingga naik menjadi 150 Rupiah per bulan.
14. Stukken over de Eigendom Bewijze van ’s Gouverments Specerij Perken te Benkoelen, 1825, afschrijft, 1 deel, nb. Bahasa Inggris dan Melayu (Arsip Nasional B: 5/7), yaitu: Surat Persumpahan Pangeran Nata Di Raja kepada Residen Belanda Verploegh pada bulan Juli tahun 1825, yang berisi pernyataan setia Pangeran Nata Di Raja kepada pemerintah Belanda.
15. Surat protes para kepala pribumi Bengkulu kepada Residen Belanda, Verploegh tertanggal 15 September 1826, (Arsip Nasional B: 5/4), yang berisi protes atas pemberangkatan kapal Inggris yang akan membawa istri-istri dan anak-anak pribumi Bengkulu ke luar pulau, karena bertentangan dengan hukum adat mereka.
16. Rekest van Radja Bangsawan (Arsip Nasional B: 5/7), berisi permohonan tunjangan untuk Pangeran Sillebar yang sejak tahun 1825 hingga tahun 1828 belum diberikan oleh pemerintah Belanda.
17. Surat Depattie Tjinta Mandie kepada Depattie Tandjong Erang Tertanggal 26 Juni 1835, (Arsip Nasional B: 7), yang berisi saran agar tidak bekerja-sama dengan pihak pemerintah Belanda.
18. Brieven aan den Ass. Resident Benkoelen P. de Perez, 1835, (Arsip Nasional B: 7), yang memuat laporan tentang terbunuhnya gezaghebber Seluma pada tanggal 28 Juni 1835.
19. Brieven aan en Ass Resident Benkoelen P. de Perez, 1835, disalin dari huruf Jawi Melayu (Arsip Nasional B:/7), yang berisi Laporan para Kepala Pribumi Selumah tentang Kejahatan Orang-Orang Pasyemah, yang terisi tentang kejahatan orang Pasyemah di wilayah Selumah yang telah merusak pasar dan membunuh Boss (Gezaghebber) di Selumah.
20. Aanteekeningen van N. Hewtson, Kontroleur van Manna, Betreffende het Landschap Pasemah Oeloe Mnna, d.d. 27 September 1850, yang memuat tentang kelakuan orang-orang Pasemah baik pada zaman Inggris maupun pada zaman Belanda .
21. Oendang-Oendang Peratoeran Bimbang Radja-Radja dan Raden-Raden Jang Terpakei Dalem Residensi Benkoelen, yang berisi peraturan mengenai pelaksanaan bimbang (pesta) untuk golongan bangsawan dan golongan rakyat biasa.
22. Oendang-Oendang Adat Lembaga Melayoe Jang Dipakei Oleh Radja Dengan Penghoeloe Dalem Negri Bangkahoeloe Soedah Diserapatkan Dengan Henry Robert Lewis Eskuwir yang Djadi Madjesteriat Ketika Itoe, yang berisi pengaturan mengenai hukum adat pribumi Bengkulu yang ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu.
23. Eenige Archiefstukken Betreffende de Vestiging van de Engelsche Factorij te Benkoelen in 1685, berisi surat menyurat antara pejabat Inggris di Bengkulu dengan para pejabat Inggris di Madras, Indrapura, maupun dengan wakil Sultan Banten di Sillebar.
24. Oude Brieven uit een Benkoeloesch Archief (1847-1874), antara lain memuat peraturan tentang larangan berpayung bagi para Kepala Pribumi yang tidak sesuai dengan jabatannya.
25. Iets Over het Ontstaan van Eenige Regent Schappen in de Adsistent Residentie Benkoelen, door J.A.W. van Ophuijsen, memuat tentang silsilah keturunan Pangeran Sungai Lemau, pangeran Sungai Itam, dan Pangeran Sillebar.
26. Brief dd. 7 September 1824 van Resident Prince aan Goerge Swinton te Calcutta, yang melaporkan kegemparan di kalangan para kepala pribumi Bengkulu yang memprotes terhadap kebijaksanaan Inggris yang akan menyerahkan wilayah Bengkulu kepada pihak Belanda.
27. Lijst van te Benkoelen Aanwezige Engelsche Grafschriften Opgemaakt Door W, Bakker, berisi tentang daftar orang-orang Inggris yang meninggal di Bengkulu yang ditulis pada batu nisan.
28. De Familie Daing Mabella, volgens een Maleisch Handschrift, memuat petualangan anak keturunan Daeng Mabella ke Bengkulu pada zaman Inggris hingga akhir hayatnya.
29. Bahoewa Inilah Asal-Oesoel, merupakan tulisan para raja-raja Sungai Lemau hingga Pangeran Muhammad Syah, yang berisi berbagai kegiatan pemerintahan adat pribumi Bengkulu yang disusun menjadi 44 patsal.
ಒಲೆಹ್ : Setiyanto
READ MORE - Warisan Melayu Bengkulu

Warisan Local Genius, Aset Wisata


Bangkrut suburnya sebuah produk kebudayaan sangat tergantung pada daya dukung persepsi dan responsi masyarakatnya. Bilamana masyarakatnya sudah mulai bosan dan jenuh dengan produk kebudayaannya sendiri, dan sudah mulai gandrung dengan produk budaya luar maka dapat dipastikan lambat ataupun cepat produk kebudayaannya akan mengalami kebangkrutan. Sebaliknya, bila produk-produk kebudayaan itu masih setia dipertahankan sebagian besar lapisan masyarakatnya dan ditradisikan dari generasi ke generasi, bisa dipastikan produk budaya lokal tersebut membumi menjadi local genius.
Untuk mencapai sebuah produk budaya yang local genius, tentu saja dibutuhkan magnit-magnit yang tidak saja sebagai daya pembangkit bagi dirinya, tetapi juga daya tarik dan ruang gerak yang lebih luas. Dan tidaklah berlebihan bahwa ruang gerak yang luas tersebut dapat tercapai melalui jalur wisata. Sebab, secara operatif, antara budaya dan wisata, keduanya tidak sekedar saling melengkapi, melainkan interdepedentif (saling ketergantungan).

“Budaya tanpa wisata, bak ruh yang kehilangan jasadnya. Dan wisata tanpa budaya, bagai jasad tak bernyawa”. Adagium ini tidak berlebihan. Artinya, sebuah produk budaya hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan subur, bila telah menyatu dengan produk wisata. Dengan bahasa lain, keduanya akan bersinar terang, jika dijadikan dalam sebuah paket “tourist art” (seni wisata). Dan tentunya, daya tarik atau magnit yang dapat menimbulkan rasa kesenangan, kesejukan, kenyamanan, ketentraman inilah yang akan menjadi benang merahnya dalam pembangunan kepariwisataan. 

Demikian juga yang terjadi dengan produk budaya Melayu  yang sudah membaur dan menyatu dalam kesadaran kebudayaan masyarakat Bengkulu yang sekarang. Bahkan pengaruh budaya Melayu tersebut cukup menonjol pada setiap kesempatan prosesi-prosesi ritual, seperti pesta pernikahan, Sunatan Rasul (khitanan), Katam Kaji (Katam Qur’an), Potong Rambut (Membuai Anak), dan lain sebagainya. 

Di bidang keseniannya pun dapat dicermati dengan bermunculannya kelompok kesenian baik berupa sanggar tari, sanggar musik, maupun sanggar teater. Di wilayah Kota tercatat ada 7 kelompok musik Gamat Melayu (data base KSB: 2003), belum termasuk kesenian Dendangnya. Bahkan para pekerja seni yang tergabung dalam wadah Komunitas Seniman Bengkulu (KSB) telah membentuk kelompok teater tradisional yang berlabel “Panggung Bangsawan Bengkulu”sejak tahun 2000. Seni pertunjukan rakyat dalam bentuk teater tradisional tersebut tidak sekedar berpotensi sebagai pelestarian budaya Melayu, tetapi juga aset bagi pengembangan kepariwisataan di Bengkulu. 

Yang menjadi persoalan, magnit-magnit kebudayaan yang bagaimana yang perlu diberdayakan agar mampu menjadi sinar penerang dalam kegelapan, dan mampu berdendang ria di atas panggung dunia kepariwisataan. Selanjutnya, siapa saja yang mesti terlibat di dalamnya. Barangkali, persoalan-persoalan inilah yang secara substansial perlu diproritaskan untuk menciptakan sebuah strategi kebudayaan, agar setiap produk budaya lokal berpotensi sebagai daya dukung dalam pembangunan kepariwisataan.

Sebagai bagian dari produk industri pariwisata, maka warisan tradisi ke- Melayu- an tersebut perlu diberdayakan secara optimal agar memiliki daya tarik bagi para wisatawan. Dan sebaiknya, perumusan empowerment strategy (strategi pemberdayaan) kewisataan ini melibatkan stake holder — para pemikir seni, budayawan, sejarawan, usahawan, maupun para birokrat yang berakal seni. 

Penerapan strategi pemberdayaan tradisi ke-Melayu-an ini, paling tidak harus memperhatikan dua hal. Pertama, harus tetap menjaga entitas nilai estetis dan nilai culturalnya. Apabila entitas nilai seninya cenderung terabaikan, maka dikawatirkan dapat menurunkan daya tarik para wisatawan. Dan ini bisa terjamin bila melibatkan peran aktif dari para pemikir atau pekerja seni (seniman ). Selanjutnya, peran sejarawan maupun budayawan diharapkan dapat merekonstruksi serta memanfaatkan sumber daya warisan budaya masa lampau yang potensial dalam mendukung pembangunan kepariwisataan.

Yang kedua, yaitu memperhatikan kecenderungan selera kebutuhan para wisatawan. Bahwa wisatawan cenderung ingin menikmati obyek wisata sebanyak-banyaknya, dalam waktu sesingkat-singkatnya, mudah dijangkau oleh transportasi, aman, nyaman, dan dengan harga semurah-murahnya. Serta keinginan-keinginan lain seperti, ingin makan dan minum yang khas, dapat membeli barang-barang souvenir sebagai cendera mata (baik berupa barang-barang kerajinan, termasuk buku-buku sejarah dan budayanya) di sekitar lokasi wisata.
Untuk mengantisipasi kecenderungan wisatawan yang ingin menikmati hasil budaya lokal dalam waktu yang relatif singkat, maka diperlukan sebuah produk budaya yang packaged (sudah dikemas) dalam format yang kecil dan padat.
Bagaimana juga kaum seniman mempunyai andil besar dalam pemasaran produk wisata. Tanpa keterlibatan para pekerja seni, maka produk-produk wisata bagai sebuah patung gelap tanpa pancaran sinar estetika. Sebaliknya, melalui sentuhan olah pemikiran dan olah keterampilan para seniman itulah, produk-produk wisata menjadi lebih bermakna, dan bercahaya, karena tersinari oleh ruh dan kalbunya nilai-nilai estetika.

Karenanya, proaktif para seniman baik secara individual maupun melalui sanggar-sanggar dalam mengemas produk-produk seni wisata tidak saja terbatas pada kemasan seni pertunjukan (seni tari, seni musik, seni teater, seni resitasi), tapi juga berbagai jenis seni rupa murni (seni lukis, seni patung, seni grafis), seni disain, maupun seni kriya (kulit, kayu, logam, dan lain-lain), serta seni multimedia, bahkan mungkin seni alternatif yang bernuansa local genius. Dengan demikian, perlu keterlibatan para seniman dari berbagai bidang spesialisasinya.
Dan sebaiknya, para seniman dalam penggarapan seninya tidak keluar jauh dari koridor bidang ketrampilannya, agar lebih terjamin kualitas produk seninya. Di samping itu, diperlukan sebuah wadah tempat penggemblengan kaum seniman agar tidak terjebak dalam alienasi kebudayaannya.

Keterlibatan secara aktif beberapa lembaga/instansi yang terkait dengan kewisataan mutlak diperlukan, terutama para stake holder (sebagai mitra) Dinas Pariwisata yang lebih berperan sebagai manajernya. Dan gaya manajerialnya itulah yang nanti mewarnai keberadaan dan perkembangan kewisataan.
Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran Dewan Kesenian Daerah (DKD) atau Dewan Kesenian Kota (DKK), selaku DPR nya kesenian. DKD/DKK tidak saja sekedar sebagai wadahnya para seniman, atau payungnya para sanggar seni, tetapi harus juga mampu menangkap dan mengakomodir segala bentuk pemikiran, ide, serta aspirasi para senimannya. Dengan proaktifnya DKD/DKK ini, maka masyarakat seni dengan segala aktivitas keseniannya dapat dipastikan semakin berkembang cerah. Dan tentunya ini sangat mendukung program kepariwisataan di Bengkulu.

Di samping itu, keterlibatan para pemilik biro travel, biro penerbangan, restaurant, hotel ataupun guesthoese terhadap kewisataan juga sangat diperlukan. Sebab besarnya arus wisatawan terutama dari luar daerah maupun manca, jelas berpengaruh terhadap sumber pengahasilan mereka. Karenanya, setidak-tidaknya, ada kerja sama dengan para seniman baik melalui sanggarnya maupun via DKD/DKK nya (kalau berfungsi). Dan kesejahteraan sosial tersebut tentunya disertai dengan dukungan kontribusi materialnya sebagian dari hasil keuntungan fnansial yang diperoleh dari kunjungan para wisatawan.
Sekian saja !
READ MORE - Warisan Local Genius, Aset Wisata

Tari Tabot Bengkulu

Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).
Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo) Menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahun.

More

READ MORE - Tari Tabot Bengkulu

Tari Adat Bengkulu

bengkulu
bengkulu
Bengkulu propinsi di sebelah sumatra selatan ini juga mempunyai budaya yang unik dan khas itu bisa dilihat dari gerak tari dan adat di bengkulu walaupun masih kental dengan budaya melayu namun ada ciri khas tersendiri dalam budaya bengkulu ini ini beberapa foto budaya bengkulu
pakaian adat bengkulu
pakaian adat bengkulu
tari-bengkulu
tari-bengkulu
tarianbenkulu
tarianbenkulu
READ MORE - Tari Adat Bengkulu