Jumat, 12 Agustus 2011

Tari Tabot Bengkulu

Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).
Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo) Menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahun.

More

READ MORE - Tari Tabot Bengkulu

Tari Adat Bengkulu

bengkulu
bengkulu
Bengkulu propinsi di sebelah sumatra selatan ini juga mempunyai budaya yang unik dan khas itu bisa dilihat dari gerak tari dan adat di bengkulu walaupun masih kental dengan budaya melayu namun ada ciri khas tersendiri dalam budaya bengkulu ini ini beberapa foto budaya bengkulu
pakaian adat bengkulu
pakaian adat bengkulu
tari-bengkulu
tari-bengkulu
tarianbenkulu
tarianbenkulu
READ MORE - Tari Adat Bengkulu

Pengasingan Bungkarno di Bengkulu

Sekilas Naskah Bung Karno
Naskah sebagai peninggalan produk masa lampau seringkali mengandung berbagai informasi tentang aspek kehidupan masyarakat lampaunya baik aspek ekonomi, politk, maupun sosial budaya (Siti Chamamah Soeratno, 1997:10). Demikian juga dengan kumpulan naskah sandiwara toneel karya Bung Karno.
Kumpulan naskah sandiwara karya Bung Karno ini berbentuk dialog – dan kadang-kadang pada bagian-bagian tertentu diperlukan monolog. Oleh karenanya naskah tersebut dapat dimasukkan dalam kategori teks drama. Dialog bergantian (giliran bicara), sekali-kali monolog, merupakan teks-teks yang disiapkan kepada para aktornya – tak seorangpun ada berperan sebagai juru cerita (dalang) yang berhubungan langsung dengan penonton (Jan Van Luxemburg dkk, 1986:160).
Jumlah naskah yang pernah ditulis oleh Bung Karno semasa pengasingannya di Ende (1934 – 1938) tercatat sebanyak dua belas judul (Cindy Adams, 1966:175 ; Lambert Giebels, 1999:200). Keduabelas judul tersebut, yang tercatat antara lain : Dr. Sjaitan; Ero Dinamik; Rahasia Kelimoetoe; Tahoen 1945; Don Louis Pereira; Koetkoetbi; Toberro, dan Kummi Torro ? -. Menurut cerita Pak Burhan Wahid, naskah Bung Karno yang diberi judul Toberro itu merupakan kepanjangan dari Tokyo – Berlin – dan Roma. Sayang, tak banyak data tentang naskah tersebut yang bisa diungkapkan.
Kemudian, semasa pengasingannya di Bengkulu (1938 – 1942), Bung Karno juga menulis beberapa naskah, antara lain : Rainbow (Poetri Kentjana Boelan); Hantoe Goenoeng Boengkoek; Si Ketjil (Klein’duimpje); dan Chungking Djakarta.
Sayangnya, dari sekian banyak naskah tersebut, yang sampai pada penulis, hanya ada empat buah naskah, yaitu : Dr. Sjaitan ; Chungking Djakarta; Koetkoetbi; dan Rainbow (Poteri Kentjana Boelan). Bahkan teks naskah Dr. Sjaitan sudah tidak lengkap – hanya ada dua bedrijf (babak) saja – semestinya, lengkapnya terdiri atas enam babak (Lambert Giebels, 1999: 201).
Namun demikian, melalui beberapa narasumber yang pernah diceriterakan kepada penulis, kandungan ceritera beberapa naskah seperti Hantoe Goenoeng Boengkoek, Dr. Sjaitan, maupun Si Ketjil (Klein’duimpje) masih dapat direkonstruksi.
Pesan Moral Bung Karno
Apa yang ditulis oleh Bung Karno adalah buah pikirannya. Dan buah pikirannya sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya, serta semangat jiwa zamannya. Jelasnya, Bung Karno hidup dalam suasana zaman pergerakan melawan kolonialis, dan sebagai tokoh sentral dalam pergerakan kaum nasionalis yang sedang mengobarkan api semangat nasionalismenya, meskipun dalam kondisi fisik terkurung – jiwa – semangat tak terbendung.
Buah tulisannya sangat sarat dengan amanat – pesan moral perjuangan yang disampaikan kepada masyarakat – bangsa Indonesia ditengah pergolakan hidup dari alam penjajahan menuju alam kemerdekaan. Pesan moral tentang arti pentingnya sebuah kesadaran sosial, berbudaya, politik, jatidiri – prinsip hidup bermartabat, berjiwa satria, kegotong-royongan – solidaritas - kebersamaan lintas kultural, kesadaran berketuhanan, hampir semua tercakup didalam isi kandungan kumpulan naskahnya.
Nilai-nilai moral – etika, musyawarah, serta kepemimpinan nampak menonjol pada beberapa naskah karya Bung Karno, terlebih pada naskah Chungking Djakarta. Nilai-nilai tersebut nampaknya seperti menjadi salah satu kecenderungan dalam tradisi penulisan naskah – seperti yang terdapat juga pada kandungan naskah Tantu Panggelaran (Depdikbud : 1999), maupun Babat Lombok I (Depdikbud : 1999).
Pesan – amanat Bung Karno sebagai seorang nasionalis – patriotis yang tulen cukup jelas pada isi kandungan naskah Chungking Djakarta. Dalam naskah ini, Bung Karno mengingatkan bahwa setiap langkah perjuangan tentu saja banyak rintangannya. Dan rintangan terberat yang sering menghadangnya adalah sebuah pengkhianatan dalam seperjuangan. Atau lebih tegasnya lagi “musuh dalam selimut”. Namun pada akhirnya kebenaran selalu membuahkan kemenangan.
Tokoh Tjen Djit Tjioe dan Zakir Djohan dalam naskah Chungking Djakarta menggambarkan karakter dua orang pejuang yang gigih, ulet dalam mengemban misi perjuangannya dengan tulus, serta menjunjung semangat moralitas yang tinggi. Disisi lain, kedua tokoh ini menggambarkan solidaritas – kebersamaan lintas kultural. Konsep – wawasan nasionalisme – wawasan kebangsaan yang ingin dibangun oleh Bung Karno bukanlah konsep nasionalisme – kebangsaan yang sempit (chauvinistis). Nampaknya terbaca jelas melalui kedua tokoh Tjen dan Zakir yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda namun bersatu dalam semangat kesadaran nasionalisme – nasionalisme bangsa Asia melawan bangsa kolonial. Disamping itu, apa yang pernah dicita-citakan oleh Bung Karno dalam konsep pembangunan politiknya yang disebut dengan istilah – “membangun poros Jakarta – Peking” bisa jadi naskah Chungking Djakarta ini bagian dari perjalanan sebuah proses penuangan konsep dalam bentuk lain yang disamarkan. Sebaliknya, tokoh Jo Ho Sioe dan tokoh Abu menggambarkan karakter – sifat antagonistis, pengkhianatan terhadap bangsanya, haus kekuasaan – kebendaan, keserakahan – kebathilan, yang berujung pada kebinasaan. Sementara tokoh Miss Liliwoe mewakili sifat –watak patriotik yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan. Demikian juga dengan gambaran tokoh Saminah dalam naskah Chungking Djakarta ini. Saminah digambarkan sebagai seorang yang teguh mempertahankan prinsip – jatidiri kebudayaannya – tak terpengaruh oleh silaunya dunia yang serba kebendaan. Pesan moral yang cukup mendalam tentang nafsu, keserakahan, kekuasaan yang tidak selamanya membawa kebahagiaan dalam kehidupan. Bahkan, sebaliknya membuat orang lupa diri yang berujung pada kebinasaan – seperti yang dicontohkan pada tokoh Abu dalam Chungking Djakarta.
Dan pada ujung ceritanya, Bung Karno memberikan pesan moral, bahwa pemberian penghargaan terhadap para pahlawan – pejuang sangat penting guna mengingatkan atas jasa-jasa perjuangan dalam membela tanah airnya. Seperti yang dicontohkan dalam akhir cerita ini, dimana Tjen Djit Tjioe dan Zakir Djohan mendapat tanda jasa perhargaan sebagai pejuang.
Sementara pada isi kandungan naskah Koetkoetbi yang ada kecenderungan kemiripan pola dengan isi kandungan dalam naskah Dr. Sjaitan, lebih banyak menonjolkan unsur magis – mistis – penuh horor sebagaimana kisah dalam cerita film Frankenstein. Dan ending dari cerita Koetkoetbi ini cukup menarik – seperti akhir cerita dalam judul sinetron “misteri Illahi” – atau “Dendam Siluman Buaya”. Kekuatan Allah - Sang Pencipta – Penguasa isi jagad raya menjadi dasar – landasan tingkat kesadaran religius – keimanan si penulis naskah yang cukup kuat.
Naskah Koetkoetbi ini ceritanya juga hampir mirip dengan cerita rekaan Jaelangkung – menggambarkan seseorang – manusia yang mencoba bermain-main dengan menghidupkan jasad orang yang sudah mati ratusan ribu tahun – yang kemudian membawa malapetaka baginya. Pesan moral yang disampaikan dalam Koetkoetbi ini selain berkaitan dengan pelestarian benda-benda cagar budaya, juga bahayanya – resikonya bermain-main dengan dunia mistis tanpa landasan kesadaran keimanan yang kuat. Dan akhirnya, hanyalah kekuatan Illahi lah yang harus ditempatkan diatas segalanya. Tiada tempat pertolongan selain melalui Allah.
Selanjutnya, dalam naskah Rainbow, selain membawa pesan moral dalam membangun semangat patriotik – berjiwa ksatria, lebih banyak memberikan pengajaran arti pentingnya sebuah kesadaran sejarah sebagai entitas – bagian yang tak terpisahkan dalam kebudayaan masyarakatnya. Pesan moral Bung Karno tentang arti pentingnya kesadaran sejarah, diperjelas pada selebaran pamlet sebelum pementasan Rainbow. Bahkan dalam pamlet tersebut diterangkan tahun-tahun peristiwa sejarah Bengkulu.
Bung Karno sangat sadar, bahwa masyarakat – bangsa Indonesia perlu mempelajari sejarah agar memiliki masa depan. Tampaknya sejalan dengan apa yang pernah dilontarkan oleh Michael Sturner, bahwa “Di negeri yang tanpa sejarah, masa depan masyarakatnya akan dikuasai oleh mereka yang menentukan isi ingatan, serta yang merumuskan konsep dan menafsirkan masa lampau” (Taufik Abdullah, 1995:35). Sejarawan Cicero pun pernah yang mengatakan, bahwa barang siapa tak kenal sejarahnya, akan tetap menjadi anak kecil” (Sartono Kartodirdjo, 1992:23). Dan jauh sebelumnya, orang Yunani Kuno pun sudah memperkenalkan apa yang disebut dengan “Historia Vitae Magistra” (sejarah adalah guru kehidupan). Bukankah Bung Karno juga sempat mengingatkan kita tentang “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah)
READ MORE - Pengasingan Bungkarno di Bengkulu

Lagu Bengkulu

KUMPULAN Syair Lagu :

Kadung Gelo

Pancen mulo aku wis rumongso

yen kuwe ora bisa dipercoyo

Janjimu nyatane mung lamis lambe

Bebasane sore kedele esok tempe

mulo wis kebacut kadung gelo

Bebasane sore kedele esok tempe

mulo wis kebacut kadung gelo

pancen aku wis nduweni pangroso

yen kowe ora biso ditulodo

janjimu pungkasane mung cidro bloko

njur adigang adigung adiguna

lali kang sinambut karyo

dumadine kahanan kaya ngene

ra biso dielingke

dumadine kahanan kaya ngene

ra biso dielingke

Pancen mulo aku wis rumongso

yen kuwe ora bisa dipercoyo

Janjimu nyatane mung lamis lambe

Bebasane sore kedele esok tempe

mulane wis kebacut kadung gelo

Bebasane sore kedele esok tempe

mulane wis kebacut kadung gelo

Pancen mulo aku wis rumongso

kuwe ora bisa dipercoyo

pancen aku wis nduweni pangroso

kowe ora biso ditulodo

Reff

Pancen mulo aku wis rumongso

yen kuwe ora bisa dipercoyo

Janjimu nyatane mung lamis lambe

Bebasane sore kedele esok tempe

mulane wis kebacut kadung gelo

Bebasane sore kedele esok tempe

mulane wis kebacut kadung gelo

mulane wis kebacut kadung gelo

angkoro murko

biyen mulo aku rak kondo

ojo dumeh siro wus kuwoso

njur adigang adigung adiguno

lali karo kang moho kuwoso

biyen mulo aku rak wis crito

ojo dumeh kowe sugih bondo

bondo donya kuwi mung kenane lungo

elingo kang mohon kuwoso

nalikanejamane wis beda

sing maune nduweni kuoso

saikine wis pada sengsoro

marga angkoro murko

biyen aku rak ws crito

ojo dumeh kuwe sugih banda

banda dunyo kuwi mung kenane lungo

elingo karo kang moho kuwoso

REFF

nalikanejamane wis beda

sing maune nduweni kuwoso

saikine wis pada sengsoro

marga angkoro murko

nalikane jamane wis beda

sing maune nduweni kuwoso

saikine wis pada sengsoro

marga angkoro murko

biyen muloaku rak kondo

ojo dumeh siro wus kuwoso

njur adigang adigung adiguno

lali karo kang moho kuwoso

lali karo kang moho kuwoso

Naliko wis

Naliko wis tekan titi mongso

Tan keno disemoyo

Bendune bilahi kangungane Gusti

tan disumurupi

Naliko wis garising pepesti

Tan keno diuwahi

Urip mati kuwi kagungane gusti

tan biso diselaki

Sopo wae yen wis titi mongso

ora bakal biso disemoyo

Urip mati kuwi kagunangane gusti

tan biso diselaki

Naliko wis grising pepesti

Tan keno diuwahi

Urip mati kuwi kagunangane gusti tan biso diselaki

Reff

Naliko wis tekan titi mongso

Tan keno disemoyo

Bendune bilahi kangungane Gusti

Tan disumurupi

Sopo wae yen wis titi mongso

ora bakal biso disemoyo

Urip mati kuwi kagungane gusti

tan biso diselaki

Naliko wis garising pepesti

Tan keno diuwahi

Urip mati kuwi kagungane gusti

tan biso diselaki

Sopo wae yen wis titi mongso

ora bakal biso disemoyo

Urip mati kuwi kagunane gusti

tan biso diselaki

Naliko wis tekan titi mongso

Tan keno disemoyo

Bendune bilahi kangungane Gusti

Tan disumurupi

NINGGAL JANJI

Opo kowe ra kelingan

Karo janjimu dek biyen

Jare ngajak mukti bebarengan

Saikine la kok mlaku ijen

Opo kowe pancen lali

Karo janjimu dek wingi

Jare urip bareng mukti

Saikine la kok ninggal janji

Reff. 1

Sawise kowe biso urip mulyo

ra kelingan marang sing wis mbelo

Sawise kowe wis nduweni kuwoso

njur adigang adigung adiguno

Reff: 2

Opo kowe pancen lali

Karo janjimu dek wingi

Jare urip bareng mukti

Saikine la kok ninggal janji

Reff: 3

Sawise kowe biso urip mulyo

ra kelingan marang sing wis mbelo

Sawise kowe wis nduweni kuwoso

njur adigang adigung adiguno

ELING ELING

Ojo dumeh siro uwis mulyo

sugih bondo mas picis raja brono

ora kelingan marang ingkang moho mulyo

donyo brono kuwi kenane lungo

Ojo dumeh siro wus kuwoso

njur adigang adigung adiguno

Ora kelingan marang ingkang gawe jagad

Pangkat drajat kuwi kenane minggat

Reff: 1

Eling-eling siro manungso

Urip ing ndoyo kuwi mung sadelo

Paribabase urip mung mampir ngumbe

printahe gusti ojo dilalekake

Eling-eling siro manungso

Sopo urip bakal ketekan pati

Urip mati kjuwi kagungane gusti

Sopo wae ora biso anyelaki

Reff: 2

Ojo dumeh siro wis mulyo

sugih bondo mas picis raja brono

ora kelingan marang ingkang moho mulyo

donyo brono kuwi kenane lungo

Ojo dumeh siro wus kuwoso

njur adigang adigung adiguno

Ora kelingan marang ingkang gawe jagad

Pangkat drajat kuwi kenane minggat

Reff: 3

Eling-eling siro manungso

Urip ing ndoyo kuwi mung sadelo

Paribabase urip mung mampir ngumbe

printahe gusti ojo dilalekake

Ojo dumeh siro wis mulyo

sugih bondo mas picis raja brono

ora kelingan marang ingkang moho mulyo

donyo brono kuwi kenane lungo

donyo brono kuwi kenane lungo

R0JO MUDO

ono sijine crito critane sayemboro

sopo wae sing karep dadi rojo

sing pengin dadi rojo

modale akeh bondo

Sopo wae sing kalah bondo musno

Jebule sing dadi rojo umure isih mudo

Menang mergo akeh sing pada mbelo

Bareng wis dadi rojo

Lali karo sing mbelo

Njur adigang adigung adiguno

Reff: 1

Pungkasane cerito

akeh sing pada gelo

rojo mudo soyo angkoro murko

Lakune sak enake ra no sing ngelingake

Kabeh podo wedi karo rajane

opo maneh punggawane stengah mati wedine

wedine nek dicopot jabatane

Reff. 2

Lakune sak enake ra no sing ngelingake

kabeh podo wedi karo rajane

Opo maneh dewane ora mikir rakyate

mergo uwis disumpel suarane

Jamane jaman edan akeh sing podo ngedan

wis do ngedan malah ora keduman

Sak bejane sing lali isih bejo sing eling

Isih beja sing eling lan waspodo

Jaman edan podo ngedan

wis do ngedan ra keduman

by: kangagoes@copyright 2005

EMAN TEMEN

Eman eman eman temen

Wong sugih ora sembahyang

Eman eman eman temen

Wong mlarat ora gelem sembahyang

Oo, eman temen, wong sugih wong sugih ora sembahyang

Ooo,eman temen, wong mlarat wong mlarat ora gelem sembahyang

Nabi Sulaiman luwih sugih sembahyang

Nabi Ayub luwih mlarat gelem sembahyang

REFF:

Ooo, eman temen, wong sugih wong sugih ora sembahyang

Ooo,eman temen, wong mlarat wong mlarat ora gelem sembahyang

Nabi Sulaiman luwih sugih sembahyang

Nabi Ayub luwih mlarat gelem sembahyang

Eman eman eman temen

Wong sugih ora gelem sembahyang

Wong mlarat wong mlarat ora gelem sembahyang

Eman temen eman temen eman temen

IBO NIAN

Ibo ibo ibo nian

Orang kayo idak sembahyang

Ibo ibo ibo nian

Orang saro idak sembahyang

Ooo, ibo nian,

orang kayo idak sembahyang

Ooo, ibo nian,

orang saro orang saro idak sembahyang

Nabi Sulaiman kayo nian sembahyang

Nabi Ayub saro nian sembahyang

REFF:

Ooo, ibo nian,

orang kayo orang kayo idak sembahyang

Ooo, ibo nian,

orang saro orang saro idak sembahyang

Nabi Sulaiman kayo nian sembahyang

Nabi Ayub saro nian sembahyang

Ibo ibo ibo nian

Orang kayo idak sembahyang

Orang saro orang saro idak sembahyang

Ibo nian ibo nian ibo nian

NYUWUN BAROKAH

Duh gusti moho murah kulo nyuwun rejeki ingkang barokah

kangge amal jariyah ugi kangge sangu ibadah teng Mekkah

najan kulo dereng gadah omah nanging kulo sregep ibadah

najan kulo urip susah nanging ati kulo tetep bungah

Duh gusti moho murah kulo nyuwun rejeki ingkang barokah

kangge amal jariyah ugi kangge sangu ibadah teng Mekkah

najan kulo dereng gadah omah nanging kulo sregep ibadah

najan kulo niki urip susah nanging ati kulo tetep bungah

Duh gusti moho murah kulo nyuwun rejeki ingkang barokah

kangge amal jariyah ugi kangge sangu ibadah teng Mekkah

REFF:

Duh gusti moho murah kulo nyuwun rejeki ingkang barokah

kangge amal jariyah ugi kangge sangu ibadah teng Mekkah

najan kulo dereng gadah omah nanging kulo sregep ibadah

najan kulo niki urip susah nanging ati kulo tetep bungah

Duh gusti moho murah kulo nyuwun rejeki ingkang barokah

kangge amal jariyah ugi kangge sangu ibadah teng Mekkah

najan kulo dereng gadah omah nanging kulo sregep ibadah

najan kulo niki urip susah nanging ati kulo tetep bungah

Duh gusti moho murah kulo nyuwun rejeki ingkang barokah

kangge amal jariyah ugi kangge sangu ibadah teng Mekkah

Duh gusti moho murah kulo nyuwun rejeki ingkang barokah

DUH GUSTI

Duh Gusti Pangeran ingkang nguwaosi jagad royo

Mugio Pangeran apunten sedoyo dosa kulo

Kulo angakeni lepat milo niki bade tobat

Mboten malih bade sesat Kulo wedi dipun laknat

Kulo angakeni lepat milo niki bade tobat

Mboten malih bade sesat Kulo wedi dipun laknat

Duh Gusti Pangeran ingkang nguwaosi jagad royo

Mugio Pangeran apunten sedoyo dosa kulo

REFF: 1

Kulo angakeni lepat milo niki bade tobat

Mboten malih bade sesat Kulo wedi dipun laknat

Kulo angakeni lepat milo niki bade tobat

Mboten malih bade sesat Kulo wedi dipun laknat

Duh Gusti Pangeran ingkang nguwaosi jagad royo

Mugio Pangeran apunten sedoyo dosa kulo

REFF: 2

Kulo angakeni lepat milo niki bade tobat

Mboten malih bade sesat Kulo wedi dipun laknat

Kulo angakeni lepat milo niki bade tobat

Mboten malih bade sesat Kulo wedi dipun laknat

Duh Gusti Pangeran ingkang nguwaosi jagad royo

Mugio Pangeran apunten sedoyo dosa kulo

Kulo angakeni lepat milo niki bade tobat

Mboten malih bade sesat Kulo wedi dipun laknat

Kulo angakeni lepat milo niki bade tobat

Mboten malih bade sesat Kulo wedi dipun laknat

Duh Gusti Pangeran ingkang nguwaosi jagad royo

Mugio Pangeran apunten sedoyo dosa kulo

Duh Gusti Pangeran ingkang nguwaosi jagad royo

Mugio Pangeran apunten sedoyo dosa kulo

TOMBO ATI

Tombo ati tombo atine manungso tombo atine manungo kuwi

Tombo atine manungo kuwi ono limo wernane limo wernane limo wernane

kaping sijine moco al’quran ugo jo lali karo maknane

kaping pindone sholat tengah wengi

kaping telune wong sholeh kumpulono

kaping pat weteng setengah luwih

ping lima zikir wengi kang suwe

sijine lamun biso nglakoni

insyallah gusti Allah ayembadani

REFF:

Tombo atine manungso

kuwi ana lima perkoro

atine sopo sing ora loro

Kuwi tombo atine manungso

Tombo atine manungso

kuwi ana lima perkoro

atine sopo sing ora loro

Kuwi tombo atine manungso

kaping sijine moco al’quran ugo jo lali karo maknane

kaping pindone sholat tenagh wengi

kaping telune wong soleh kumpulono

kaping pat weteng setengah luwih

ping lima zikir wengi kang suwe

sijine lamun biso nglakoni

insyaallah gustiAllah nyembadani

Tombo atine manungso

kuwi ana lima perkoro

atine sopo sing ora loro

Kuwi tombo atine manungso

Tombo atine manungso

kuwi ana lima perkoro

atine sopo sing ora loro

Kuwi tombo atine manungso

by: kangagoes@copyright 2005
READ MORE - Lagu Bengkulu

Asal Usul Nama Propinsi Bengkulu

 Asal Usul Nama Propinsi Bengkulu, Bengkulu berasal dari bahasa Melayu-Jawi kata bang  yang berarti pesisir kemudian terjadi pegeseran pengucapan berubah menjadi beng dan kulon berarti barat menjadi kulu Di wilayah Bengkulu sekarang pernah berdiri kerajaan-kerajaan yang berdasarkan etnis seperti Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Pat Petulai, Kerajaan Balai Buntar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sekiris, Kerajaan Gedung Agung, dan Kerajaan Marau Riang. Di bawah Kesultanan Banten, mereka menjadi vazal. Sebagian wilayah Bengkulu, juga pernah berada dibawah kekuasaan Kerajaan Inderapura semenjak abad ke-17.

British East India Company (EIC) sejak 1685 mendirikan pusat perdagangan lada Bencoolen dan kemudian gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu. Saat itu, ekspedisi EIC dipimpin oleh Ralph Ord dan William Cowley untuk mencari pengganti pusat perdagangan lada setelah Pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC, dan EIC dilarang berdagang di sana. Traktat dengan Kerajaan Selebar pada tanggal 12 Juli 1685 mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung perdagangan. Benteng York didirikan tahun 1685 di sekitar muara Sungai Serut. Sejak 1713, dibangun benteng Marlborough (selesai 1719) yang hingga sekarang masih tegak berdiri. Namun demikian, perusahaan ini lama kelamaan menyadari tempat itu tidak menguntungkan karena tidak bisa menghasilkan lada dalam jumlah mencukupi.

Sejak dilaksanakannya Perjanjian London pada tahun 1824, Bengkulu diserahkan ke Belanda, dengan imbalan Malaka sekaligus penegasan atas kepemilikan Tumasik/Singapura dan Pulau Belitung). Sejak perjanjian itu Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Penemuan deposit emas di daerah Rejang Lebong pada paruh kedua abad ke-19 menjadikan tempat itu sebagai pusat penambangan emas hingga abad ke-20. Saat ini, kegiatan penambangan komersial telah dihentikan semenjak habisnya deposit. Pada tahun 1930-an, Bengkulu menjadi tempat pembuangan sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan, termasuk Sukarno. Di masa inilah Sukarno berkenalan dengan Fatmawati yang kelak menjadi isterinya. Setelah kemerdekaan Indonesia, Bengkulu menjadi keresidenan dalam provinsi Sumatera Selatan. Baru sejak tanggal 18 November 1968 ditingkatkan statusnya menjadi provinsi ke-26 (termuda sebelum Timor Timur).
READ MORE - Asal Usul Nama Propinsi Bengkulu